Menjadi seorang pemimpin yang dapat diterima

Dewasa ini banyak orang berebut menjadi pemimpin. beberapa diantara mereka sukses merebut jabatan-jabatan sebagai pemimpin. Pemilihan-pemilihan seperti Pilkada dan sebagainya menghantarkan mereka yang sukses menjadi pemimpin-pemimpin daerah atau menjadi anggota DPR dan sebagainya. Entah dengan cara bagaimana faktanya adalah mereka memperoleh legalitas sebagai pemimpin. demikian pula pada perusahaan-perusahaan swasta, para manager diangkat dengan berbagai criteria. Beberapa diantara mereka dipilih karena dekat dengan Boss, yang lain dipilih karena berpendidikan luar negeri dan sebagainya.
Cara apapun yang ditempuh dan dialami seseorang untuk memperoleh jabatan sebagai pemimpin sesungguhnya belum menjadikan mereka sebagai “Pemimpin” yang sebenarnya. Pemimpin yang sesungguhnya adalah ketika anda berhasil menaklukan hati kelompok yang anda pimpin dan mereka dengan hati ikhlas menerima anda sebagai panutan mereka. Ada beberapa hal yang dapat anda usahakan agar kelompok yang anda pimpin dapat menerima anda sebagai panutan mereka antara lain adalah:

TURUN KELAPANGAN
Gubernur DKI yang baru , bapak Joko Widodo dan wakilnya Ahok , setelah terpilih mengatakan bahwa Gaya kerjanya selama 5 (lima) tahun kedepan adalah “Gaya Blusukan” atau turun kekampung-kampung. Hal ini karena beliau ingin mengenal lebih dalam apa yang dialami penduduk DKI. Mengenal lapangan hanya dari laporan tertulis yang masuk hanya akan memberitahukan kepada kita sedikit dari yang terjadi dilapangan. Alasan-alasan mengapa bisa terjadi hal-hal yang demikian hanya bisa kita cari bila kita turun sendiri kelapangan dan menganalisa dari hal-hal yang terjadi disana. Bila anda memimpin sebuah perusahaan anda bisa memahami kesulitan pelanggan bila anda berbicara langsung dengan mereka. Anda bisa lebih memahami mengapa mereka loyal atau tidak dengan produk-produk anda.

BERIKAN BUKTI
Orang-orang sekarang ini menginginkan hasil atau bukti yang instant, tidak terlalu lama. Para pemimpin harus berusaha secara bertahap mulai memberikan bukti hasil kerja mereka. Oleh karena itu sebagai pemimpin anda harus membagi tujuan anda kedalam beberapa tahapan. Setiap tahap yang sudah tercapai harus disosialisasikan kepada kelompok. Beritahukan bahwa anda bersama kelompok masih harus meneruskan untuk mencapai ‘Tujuan” jangka panjang anda? Misalnya mengadakan “Kartu Sehat” bagi penduduk DKI tentu lebih mudah daripada memecahkan “Kemacetan” dijalan raya. Agar tidak terkesan hanya “Omong” maka Gubernur DKI yang baru dapat memberikan hal ini . Para Manager perusahaan swasta harus dapat memberikan hasil jangka pendek sebelum mencapai sasaran-sasaran jangka panjang.
Sebagai pemimpin anda juga harus berpartisipasi dalam pekerjaan. Anak buah biasanya akan sangat suka bila pemimpin ikut serta dalam proses pekerjaan bukan hanya memberikan instruksi dari belakang meja. Lagi pula dengan berpartisipasi anda akan lebih mengerti bagaimana sulitnya menyelesaikan permintaan pelanggan.

CARI SOLUSI BUKAN MENCARI KESALAHAN
Dalam melaksanakan pekerjaan anda dan kelompok akan mengalami beberapa masalah atau kegagalan. Bila kesalahan sudah terjadi anda harus siap menerimanya karena setiap orang bisa saja berbuat kesalahan. Yang lebih penting adalah bukan mencari siapa yang bersalah melainkan bagaimana memperbaiki kesalahan tersebut. Bila anda ngotot mencari kesalahan maka anggota yang bersalah akan menjadi trauma dan selanjutnya mungkin akan menahan diri dari pekerjaan karena takut akan berbuat kesalahan lagi. Mereka menjadi tidak lagi produktif. Bila anda fokus kepada bagaimana memperbaiki kesalahan maka pekerjaan selanjutnya akan lebih mudah. Bukankah anakbuah sudah lebih berpengalaman sekarang. Anah buah yang berpengalaman ini dikemudian hari menjadi tangan kanan anda yang handal. Keadaan yang tidak saling mencari kesalahan akan menciptakan suasana kerja yang lebih kondusif. Kerjasama antar anggota menjadi lebih baik dan hal ini menjadi motivasi tersendiri bagi kelompok untuk mencetak prestasi.

MELIHAT JAUH KEDEPAN
Ketika anak buah anda hanya berpikir untuk saat ini maka para pemimpin harus jeli melihat “Masa Depan”. Pemimpin bukan hanya mempertimbangkan apa yang dilakukan dan apa yang dihadapi saat ini, tetapi melihat jauh kedepan apa yang akan terjadi bila kita melakukan hal-hal tertentu. Pemimpin harus dapat menunjukan kepada kelompok masa depan seperti apa yang kita miliki dan kemudian membawa kelompok secara bertahap kepada masa-masa yang lebih cerah. Ini adalah sebuah “VISI” yang dicetuskan oleh pemimpin karena melihat potensi-potensi kelompok dan kemampuan perusahaan untuk mewujudkan impian-impiannya.
Visi ini menjadi sebuah “Komitmen” bersama dari seluruh anggota kelompok dan mengikat seluruh anggota kelompok menjadi satu kesatuan yang berjuang untuk sebuah tujuan yang sama. Meskipun mungkin belum bisa tercapai seluruhnya karena Visi merupakan Komitmen jangka panjang, anda dapat menunjukan kemajuannya. Anggota yang melihat bahwa secara bertahap anda mampu membawa kelompok untuk mencapai goal atau tujuan maka mereka akan bisa menerima anda sebagai “pemimpin”. Yaitu pemimpin yang mampu membuka kesempatan bagi kelompok dan mencapai tujuan kelompok.

Tanya:
Bagaimana Caranya mengembangkan “Kepemimpinan” kita, saya sering merasa ragu-ragu dalam memimpin kelompok saya, juga merasa sulit memimpin anak-buah yang sudah berpengalaman , bagaimana cara mengatasinya?
Jawab:
Kepemimpinan adalah Ilmu dan sekaligua Seni, Ilmu bisa anda pelajari dibangku kuliah, dari buku-buku dan lain sebagainya tetapi Seni adalah bakat yang ada dari dalam diri kita sendiri. Bakat ini apa bila diasah tidak akan timbul kepermukaan. Untuk mengasahnya anda harus “mengalami”nya. Karena itu untuk meningkatkan kepemimpinan anda buatlah tantangan atau target dalam hal tertentu. Lalu buat pula strateginya, kemudian lakukan! Saat anda melakukan maka anda melatih diri anda untuk sesuatu yang baru. Kemudian evaluasi hasilnya. Tahukan anda dimana salah dan benar anda? Nah dari hal-hal tersebut anda berusaha meningkatkan kepemimpinan dalam diri anda!
Anak buah yang berpengalaman berarti sudah siap melaksanakan tugas. Mereka tidak ingin diatur dalam cara-cara melakukan pekerjaan. Karena itu tidak perlu mengatur secara detail, cukup berikan garis besarnya saja agar yang bersangkutan dapat flexibilitas dalam melaksanakannya. Jangan lupa berikan batasan wewenangnya agar jelas. Selanjutnya anda tetap perlu memantau hasilnya, mintalah yang bersangkutan membuat report atas pekerjaannya.

(Sumber: Gunadi Getol)

Comments

Popular posts from this blog

Factory Acceptance Test

Cara mengatasi gugup wawancara?

Penting Mana Pengalaman atau Pendidikan